Rabu, 11 April 2012

CERPEN HANYA MIMPI part 2



......
menolak tawaran papa. Karena aku tak mau pisah dari mamah, papah, dan Ka Sisy.Penolakankupun didukung oleh mamah. Karena pada waktu itu mamah pikir, aku masih sangat kecil untuk ditinggalkan di pondok pesantren.
“ kamu yakin  Dick??” papapun terkejut atas apa yang tadi aku omongkan
“iya pah, Dicky yakin”
Dengan raut muka bahagia, papah dan mamahpun memeluk aku.
JJJ
Keesokan harinya, papah, mamah, dan Ka Sisy mengantarku ke pondok pesantren yang terletak di Jawa Tengah. Mamah menyuruhku untuk memakai baju muslim, sarung, dan kopiah. Dan semuanya itu baru aku pakai lagi, setelah terakhir aku pakai beberapa tahun yang lalu. Ketika aku masih di khitan.
Pada saat hendak meninggalkan rumah. Hatiku bertekad, supaya aku bisa menjadi apa yang diharapkan papa selama ini. Batinku berkata pah mah Dicky akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kalian.
Disepanjang perjalanan, papah sedikit menceritakan tentang pondok yang akan aku tempati. Nama pesantren yang akan aku tempati adalah pesantren Daarul Qur’an. Pesantren ini terletak dikaki gunung Slamet, dengan dikelilingi sawah, dan hawa yang sangat sejuk. KH. Abdul Saddiq adalah nama kyai pesantren tersebut, masyarakat mengenalnya dengan panggilan Abah Saddiq. Ternyata, Abah Saddiq ini adalah teman papah ketika papah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur. Selama perjalanan, papah terus saja bercerita, dan mamah yang berada disamping papah masih setia sebagai pendengar. Sedangkan aku dan Ka Sisy yang duduk di jok belakangpun tertidur tanpa menghiraukan cerita papah.
Tidak terasa, kamipun sampai ditempat tujuan yakni Pondok Pesantren Daarul Qur’an. Ketika kami hendak memasuki pintu gerbang pondok, terukir jelas didinding pondok dengan menggunakan kaligrafi arab ”AHLAN WA SAHLAN FIL MA’HAD DAARUL QUR’AN”.  Tanpa ku hiraukan apa maksud dari tulisan itu.
Kamipun turun dari mobil. Papah mengajak mamah, Ka Sisy, dan aku menuju rumah disebelah masjid pondok yang sangat sederhana, tapi terlihat sangat asri. Terlihat disana seseorang yang sedang duduk dikursi  berpenampilan alim, lembut, dan terlihat bijaksana yang sedang membaca buku. Entahlah apa yang dibacanya tapi terlihat sangat kusam sekali buku itu, sehingga ku tak bisa membaca judul buku tersebut . Ya, itulah Abah Saddiq dan rumahnya.
“Assalamu’alaikum…”  kamipun mengucapkan salam
“wa’alaikumsalam warahmatullah…” dengan senyum yang mengembang Abah Saddiqpun langsung menjawab salam kami.
Papah dan teman lamanya itu saling berpelukan. Layaknya teletubis yang akan berpisah. Kamipun disuruh masuk.
Tanpa basa basi, papahpun menjelaskan maksud kedatangannya kemari bahwa dia akan menempatkan aku disini sebagi santri Abah Saddiq. Setelah mendengar penjelasaan papah, Abah Saddiqpun angguk-angguk, pertanda mengerti apa yang harus dia lakukan terhadap anak bandel sepertiku ini. Abah Saddiqpun menyuruh salah satu santrinya untuk mengantarkan aku ke kompleks asrama untuk menempatkan aku dikamar yang masih kosong.
Haripun mulai sore. Papah, mamah, dan Ka Sisypun berpamitan pulang. Akupun ditinggal sendirian dengan lingkungan baruku. Sebelum mereka pergi papah berpesan kepadaku “kamu boleh pulang ke Jakarta, kalo kamu sudah merasa mandiri, dewasa, menjadi ahli kitab, bisa mengamalkan sebagian ilmumu dan berani tampil dimasyarakat. Jika kamu belum bisa menguasai semua itu, jangan harap pintu rumah terbuka untukmu”.  Hah!!!  Sekejam itukah papa padaku?? Tapi tidak apalah… toh ini yang terbaik buat aku batinku bergeming.
JJJ

Beberapa tahun kemudian…
Tak terasa, sudah lima tahun aku hidup di Daarul Qur’an. Merasakan susah, senang, pahit, dan manisnya kehidupan pesantren yang jauh dari masyarakat luar. Mungkin, jika ada yang bertanya, pengalaman hidup mana yang paling mengasyikkan?? Aku akan menjawab, pengalaman ketika aku hidup dipesantren.
Di sini aku belajar berbagai macam ilmu. Seperti, ilmu nahwu, fiqih, hadits, akhlaq, nujum, tajwid, tafsir dan masih banyak lainnya. Diantara sekian banyak ilmu yang paling aku sukai dan paling aku kuasai adlah ilmu nahwu. Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahas tata bahasa arab. Kalau dalam bahasa inggris kita kenal dengan istilah grammar. Aku menyukai ilmu ini, karena dengan ilmu ini kita bisa menguasai ilmu - ilmu yang lain yang bersumber dari kitab kuning, yang mayoritas pondok pesantren menggunakan kitab ini.
Selain itu disini aku memiliki beribu - ribu teman yang datang dari berbagai daerah di negri ini. Seperti temanku Teungku dari serambi mekkah Aceh, Nanang dari bandung, Aji dari Pontianak, dan masih banyak  teman-temanku yang nggak bisa aku sebutin one by one.
“Akhi… ana pulang duluan ya…, mau bareng nggak?” seru suara Ajiz dari belakang yang hendak pulang kampung.
“Ya akhi, syukron. Hati-hati, Salam untuk keluarga”  jawabku
Ya,Hari ini adalah hari pertama liburan. Saat-saat yang selalu dinantikan oleh seluruh santri Daarul Qur’an selama satu tahun ini. Maklumlah, pondokku ini liburnya satu tahun sekali. Pada saat menjelang idul fitri saja. Tetapi, liburan tahun sekarang adalah liburan pertama bagiku. Sekian lama aku menuntut ilmu disini, aku baru pulang kerumah tahun sekarang, yang biasanya tahun kemaren-kemaren aku tetap berdiam diri di pondok karena disuruh oleh Abah Saddiq untuk memantapkan ilmuku pada beliau, supaya tahun sekarang aku bisa pulang. Alhamdulillah, ternyata usahaku tidak sia-sia Abah Saddiqpun mengizinkanku untuk pulang tahun sekarang. Beliau bilang “sudah waktunya kamu terjun kemasyarakat”.
Sekarang, aku sedang bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta sendirian. Aku sengaja tidak memberitahu orang rumah, bahwa aku akan pulang sekarang. Karena aku ingin memberikan kejutan pada mereka. Aku pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta api ekonomi. Aku sudah tidak sabar untuk sampai ke Jakarta dan memberikan kejutan kepada mamah, ka Sisy, dan terutama papah, bahwa aku sekarang telah menjadi apa yang diharapkan oleh papah sejak aku masih berada di bangku SMP.
JJJ
Dan setelah beberapa jam berada di kereta api yang menurutku tidak layak pakai itu, akhirnya aku menginjakkan kakiku di stasiun Gambir. Kakiku sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang kerumah dan mencium tangan mamah, papah, dan ka Sisy serta memakai kembali motor kesayanganku yang dulu selalu menemaniku mengelilingi kota Jakarta.
Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka memandangku seperti itu? Apa karena penampilanku yang seperti ini? Batinku bertanya-tanya. Tapi aku tidak memerdulikan mereka. Akupun segera menaiki angkutan umum dengan jurusan yang masih kuingat dulu. Aku mengambil tempat duduk sebelah supir agar aku bisa melihat dengan mudah perubahan apa saja yang terjadi di kota kelahiranku ini.  
Lama sudah aku meninggalkan kota ini. Ternyata kota ini sudah banyak terjadi perubahan. Apakah keluarga, teman dan lingungan rumahku juga sudah berubah? Keluh batinku.
Aku merasa abang supir ini selalu melirik ke arahku beberapa saat. Aku hanya diam, sampai akhirnya aku merasa risih dan memberanikan diri untuk mengurnya.
“kenapa bang? Aku rasa abang dari tadi melirik ke arahku melulu”.
“ah, ngga papa jang, abang hanya heran dengan penampilanmu, abang rasa baru sekarang abang melihat anak mude jakarte nyang pergi pergi dengan pakaian seperti kamu ini jang”
“ah masa sih bang, aku rasa pakaian ini pantas untukku”
“iya memang, tapi aneh saja ngeliatnya”
Kamipun larut dalam pembicaraan yang tidak menentu arahnya sampai akhirnya abang supir ini berkata :” kamu turun dimana jang?”
“aku turun di depan gang sebelah sana bang” jawabku jujur
“oh gang itu, kalau tidak salah beberapa hari yang lalu ada bendera kuning yang di pasang di sekitar gang itu”
“wah? Yang benar bang? Abang tau siapa yang meninggal?”
“wah saya juga kurang tau jang”
“ya sudah bang, ini bang ongkosnya. Makasih ya bang”
“sama sama jang, salam buat keluargamu jang”
Aku hanya tersenyum dengan perkataan abang supir ini. Saat kakiku mulia memasuki gang rumahku, hatiku berdekup kencang hampir sama dengan disaat aku berjalan menuju ruang BK  saat masih sekolah dulu.
JJJ
Aku mengetuk pintu rumahku dan mengucapkan salam
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” terdengar suara Ka Sisy dari dalam.
Beberapa detik kemudian Ka Sisypun membukakan pintu.
“Dicky???” Ka Sisypun terkejut ketika melihatku. Akupun langsung mencium tangan Ka Sisy dengan isak tangis kerinduan yang dalam terhadap kakakku ini. Ka Sisypun memanggil mamah.
“mamaaahhhhhh… mamaaah…….. !”
“apa sih Si… brisik aja!” mamahpun keluar “Dicky!”
“Assalamu’alaikum mah”
Mamapun terdiam
“mamah ko diem aja, apa mamah nggak kangen sama Dicky?”
Mamah masih terdiam
“papa mana mah?” akupun mencari papah kekamarnya, tetapi aku tak menemukan sosoknya. Aku terus mencari papah kesemua penjuru rumah. Tetapi, aku tetap tidak menemukannya. Akupun kemblai menemui mamah dan Ka Sisy.
“mamah, Ka Sisy. Papah kemana?”
Merekapun terdiam
“ko diem aja sih mah?”
“sudah, makan dulu sana” jawab mamah
Akupun tidak menghiraukannya dan tetap mencari papah
“Dicky… kamu mau cari papah dimana lagi? Papah nggak bakalan ada disini. Papah kita udah meninggal”
“ah… Ka Sisy kalo bercanda jangan kelewatan!”
“ka sisy nggak bercanda Dicky, Ka Sisy ngomong apa adanya”
Secara reflex matakupun menoleh ke arah mamah. Terlihat disana, wajah mamah yang murung dan bersedih setelah mendengar perkataan Ka Sisy yang menurutku perkataan konyol.
“mamah… apa perkataan Ka Sisy itu benar?”
Mamahpun mengangguk tanda membenarkan perkataan Ka Sisy.
“ko mamah nggak kasih tahu aku?”
“itu keinginan papah” mamahpun menjawab dengan nada sendu.
“tapi kan mamah bisa ngasih tahu aku?”
Mamahpun terdiam
“mamah kenapa nggak kasih tahu aku???”
JJJ
“Pah, andaikan Dicky bisa menarik kembali waktu. Dicky bakal nurutin semua perkataan papah termasuk keinginan papah yang ingin memasukkan Dicky ketika Dicky mengenyam bangku SMP”
Tanpa sadar aku tidur terlelap disamping batu nisan papah. Aku merasakan papah menyentuh pundakku dan memanggil namaku.
“Dicky…Dicky…”
Akupun terkejut melihat sosok papah didepan mukaku.
“papah??”
“iya ini papah”
“beneran?”
“iya ini papah”
“ini bukan mimpikan pah? Papah benerankan masih hidup?”
“kamu ngomong apa sih? Cepetan sana berangkat sekolah! Sekarang sudah jam setengah tujuh”
Aku masih terdiam dengan dilapisi beribu-ribu pertanyaan
“Dicky!! buruan berangkat!!! Nanti kamu telat lagi!”
Papahpun pergi dari kamarku. Dalam benakku aku berkata syukurlah, ini hanya sebuah mimpi. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengingatkanku dan aku berjanji akan menjadi orang yang lebih baik lagi.
“DICKYYYYY!!! BERANGKAT!!!”
“iya pah… bentar”
JJJ
THE END






Tidak ada komentar:

Posting Komentar