menolak tawaran papa. Karena aku tak mau pisah dari mamah, papah, dan Ka Sisy.Penolakankupun didukung oleh mamah. Karena pada waktu itu mamah pikir, aku masih sangat kecil untuk ditinggalkan di pondok pesantren.
“ kamu yakin Dick??” papapun terkejut atas apa yang tadi
aku omongkan
“iya pah, Dicky yakin”
JJJ
Keesokan harinya, papah, mamah, dan Ka Sisy
mengantarku ke pondok pesantren yang terletak di Jawa Tengah. Mamah menyuruhku
untuk memakai baju muslim, sarung, dan kopiah. Dan semuanya itu baru aku pakai
lagi, setelah terakhir aku pakai beberapa tahun yang lalu. Ketika aku masih di
khitan.
Pada saat hendak meninggalkan rumah. Hatiku
bertekad, supaya aku bisa menjadi apa yang diharapkan papa selama ini. Batinku
berkata pah mah Dicky akan berusaha untuk
menjadi yang terbaik untuk kalian.
Disepanjang perjalanan, papah sedikit
menceritakan tentang pondok yang akan aku tempati. Nama pesantren yang akan aku
tempati adalah pesantren Daarul Qur’an. Pesantren ini terletak dikaki gunung
Slamet, dengan dikelilingi sawah, dan hawa yang sangat sejuk. KH. Abdul Saddiq
adalah nama kyai pesantren tersebut, masyarakat mengenalnya dengan panggilan Abah
Saddiq. Ternyata, Abah Saddiq ini adalah teman papah ketika papah menuntut ilmu
di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur. Selama perjalanan, papah terus saja
bercerita, dan mamah yang berada disamping papah masih setia sebagai pendengar.
Sedangkan aku dan Ka Sisy yang duduk di jok belakangpun tertidur tanpa
menghiraukan cerita papah.
Tidak terasa, kamipun sampai ditempat
tujuan yakni Pondok Pesantren Daarul Qur’an. Ketika kami hendak memasuki pintu
gerbang pondok, terukir jelas didinding pondok dengan menggunakan kaligrafi
arab ”AHLAN WA SAHLAN FIL MA’HAD DAARUL QUR’AN”. Tanpa ku hiraukan apa maksud dari tulisan
itu.
Kamipun turun dari mobil. Papah mengajak
mamah, Ka Sisy, dan aku menuju rumah disebelah masjid pondok yang sangat sederhana,
tapi terlihat sangat asri. Terlihat disana seseorang yang sedang duduk
dikursi berpenampilan alim, lembut, dan
terlihat bijaksana yang sedang membaca buku. Entahlah apa yang dibacanya tapi terlihat
sangat kusam sekali buku itu, sehingga ku tak bisa membaca judul buku tersebut
. Ya, itulah Abah Saddiq dan rumahnya.
“Assalamu’alaikum…” kamipun mengucapkan salam
“wa’alaikumsalam warahmatullah…” dengan
senyum yang mengembang Abah Saddiqpun langsung menjawab salam kami.
Papah dan teman lamanya itu saling
berpelukan. Layaknya teletubis yang akan berpisah. Kamipun disuruh masuk.
Tanpa basa basi, papahpun menjelaskan
maksud kedatangannya kemari bahwa dia akan menempatkan aku disini sebagi santri
Abah Saddiq. Setelah mendengar penjelasaan papah, Abah Saddiqpun angguk-angguk,
pertanda mengerti apa yang harus dia lakukan terhadap anak bandel sepertiku
ini. Abah Saddiqpun menyuruh salah satu santrinya untuk mengantarkan aku ke
kompleks asrama untuk menempatkan aku dikamar yang masih kosong.
Haripun mulai sore. Papah, mamah, dan Ka
Sisypun berpamitan pulang. Akupun ditinggal sendirian dengan lingkungan baruku.
Sebelum mereka pergi papah berpesan kepadaku “kamu boleh pulang ke Jakarta,
kalo kamu sudah merasa mandiri, dewasa, menjadi ahli kitab, bisa mengamalkan
sebagian ilmumu dan berani tampil dimasyarakat. Jika kamu belum bisa menguasai
semua itu, jangan harap pintu rumah terbuka untukmu”. Hah!!! Sekejam
itukah papa padaku?? Tapi tidak apalah… toh ini yang terbaik buat aku batinku
bergeming.
JJJ
Beberapa tahun kemudian…
Tak terasa, sudah lima tahun aku hidup di
Daarul Qur’an. Merasakan susah, senang, pahit, dan manisnya kehidupan pesantren
yang jauh dari masyarakat luar. Mungkin, jika ada yang bertanya, pengalaman
hidup mana yang paling mengasyikkan?? Aku akan menjawab, pengalaman ketika aku
hidup dipesantren.
Di sini aku belajar berbagai macam ilmu.
Seperti, ilmu nahwu, fiqih, hadits, akhlaq, nujum, tajwid, tafsir dan masih
banyak lainnya. Diantara sekian banyak ilmu yang paling aku sukai dan paling
aku kuasai adlah ilmu nahwu. Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahas tata bahasa
arab. Kalau dalam bahasa inggris kita kenal dengan istilah grammar. Aku menyukai ilmu ini, karena dengan ilmu ini kita bisa
menguasai ilmu - ilmu yang lain yang bersumber dari kitab kuning, yang
mayoritas pondok pesantren menggunakan kitab ini.
Selain itu disini aku memiliki beribu - ribu
teman yang datang dari berbagai daerah di negri ini. Seperti temanku Teungku
dari serambi mekkah Aceh, Nanang dari bandung, Aji dari Pontianak, dan masih
banyak teman-temanku yang nggak bisa aku
sebutin one by one.
“Akhi… ana pulang duluan ya…, mau bareng nggak?” seru suara Ajiz dari belakang
yang hendak pulang kampung.
“Ya akhi, syukron. Hati-hati, Salam untuk
keluarga” jawabku
Ya,Hari ini adalah hari pertama liburan.
Saat-saat yang selalu dinantikan oleh seluruh santri Daarul Qur’an selama satu
tahun ini. Maklumlah, pondokku ini liburnya satu tahun sekali. Pada saat
menjelang idul fitri saja. Tetapi, liburan tahun sekarang adalah liburan
pertama bagiku. Sekian lama aku menuntut ilmu disini, aku baru pulang kerumah
tahun sekarang, yang biasanya tahun kemaren-kemaren
aku tetap berdiam diri di pondok karena disuruh oleh Abah Saddiq untuk
memantapkan ilmuku pada beliau, supaya tahun sekarang aku bisa pulang. Alhamdulillah, ternyata usahaku tidak
sia-sia Abah Saddiqpun mengizinkanku untuk pulang tahun sekarang. Beliau bilang
“sudah waktunya kamu terjun kemasyarakat”.
Sekarang, aku sedang bersiap-siap untuk
pulang ke Jakarta sendirian. Aku sengaja tidak memberitahu orang rumah, bahwa
aku akan pulang sekarang. Karena aku ingin memberikan kejutan pada mereka. Aku
pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta api ekonomi. Aku sudah tidak sabar
untuk sampai ke Jakarta dan memberikan kejutan kepada mamah, ka Sisy, dan
terutama papah, bahwa aku sekarang telah menjadi apa yang diharapkan oleh papah
sejak aku masih berada di bangku SMP.
JJJ
Dan setelah beberapa jam berada di kereta
api yang menurutku tidak layak pakai itu, akhirnya aku menginjakkan kakiku di
stasiun Gambir. Kakiku sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang kerumah dan
mencium tangan mamah, papah, dan ka Sisy serta memakai kembali motor
kesayanganku yang dulu selalu menemaniku mengelilingi kota Jakarta.
Ada apa dengan
orang-orang ini? Kenapa mereka memandangku seperti itu? Apa karena penampilanku
yang seperti ini? Batinku
bertanya-tanya. Tapi aku tidak memerdulikan mereka. Akupun segera menaiki
angkutan umum dengan jurusan yang masih kuingat dulu. Aku mengambil tempat
duduk sebelah supir agar aku bisa melihat dengan mudah perubahan apa saja yang
terjadi di kota kelahiranku ini.
Lama sudah aku
meninggalkan kota ini.
Ternyata kota ini sudah banyak terjadi
perubahan. Apakah keluarga, teman dan lingungan rumahku juga sudah berubah? Keluh
batinku.
Aku merasa abang supir ini selalu melirik
ke arahku beberapa saat. Aku hanya diam, sampai akhirnya aku merasa risih dan
memberanikan diri untuk mengurnya.
“kenapa bang? Aku rasa abang dari tadi
melirik ke arahku melulu”.
“ah, ngga papa jang, abang hanya heran
dengan penampilanmu, abang rasa baru sekarang abang melihat anak mude jakarte
nyang pergi pergi dengan pakaian seperti kamu ini jang”
“ah masa sih bang, aku rasa pakaian ini
pantas untukku”
“iya memang, tapi aneh saja ngeliatnya”
Kamipun larut dalam pembicaraan yang tidak
menentu arahnya sampai akhirnya abang supir ini berkata :” kamu turun dimana
jang?”
“aku turun di depan gang sebelah sana bang”
jawabku jujur
“oh gang itu, kalau tidak salah beberapa
hari yang lalu ada bendera kuning yang di pasang di sekitar gang itu”
“wah? Yang benar bang? Abang tau siapa yang
meninggal?”
“wah saya juga kurang tau jang”
“ya sudah bang, ini bang ongkosnya. Makasih
ya bang”
“sama sama jang, salam buat keluargamu
jang”
Aku hanya tersenyum dengan perkataan abang
supir ini. Saat kakiku mulia memasuki gang rumahku, hatiku berdekup kencang hampir
sama dengan disaat aku berjalan menuju ruang BK
saat masih sekolah dulu.
JJJ
Aku mengetuk pintu rumahku dan mengucapkan
salam
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” terdengar suara Ka Sisy
dari dalam.
Beberapa detik kemudian Ka Sisypun
membukakan pintu.
“Dicky???” Ka Sisypun terkejut ketika
melihatku. Akupun langsung mencium tangan Ka Sisy dengan isak tangis kerinduan
yang dalam terhadap kakakku ini. Ka Sisypun memanggil mamah.
“mamaaahhhhhh… mamaaah…….. !”
“apa sih Si… brisik aja!” mamahpun keluar
“Dicky!”
“Assalamu’alaikum mah”
Mamapun terdiam
“mamah ko diem aja, apa mamah nggak kangen
sama Dicky?”
Mamah masih terdiam
“papa mana mah?” akupun mencari papah
kekamarnya, tetapi aku tak menemukan sosoknya. Aku terus mencari papah kesemua
penjuru rumah. Tetapi, aku tetap tidak menemukannya. Akupun kemblai menemui
mamah dan Ka Sisy.
“mamah, Ka Sisy. Papah kemana?”
Merekapun terdiam
“ko diem aja sih mah?”
“sudah, makan dulu sana” jawab mamah
Akupun tidak menghiraukannya dan tetap
mencari papah
“Dicky… kamu mau cari papah dimana lagi?
Papah nggak bakalan ada disini. Papah kita udah meninggal”
“ah… Ka Sisy kalo bercanda jangan kelewatan!”
“ka sisy nggak bercanda Dicky, Ka Sisy
ngomong apa adanya”
Secara reflex matakupun menoleh ke arah
mamah. Terlihat disana, wajah mamah yang murung dan bersedih setelah mendengar
perkataan Ka Sisy yang menurutku perkataan konyol.
“mamah… apa perkataan Ka Sisy itu benar?”
Mamahpun mengangguk tanda membenarkan
perkataan Ka Sisy.
“ko mamah nggak kasih tahu aku?”
“itu keinginan papah” mamahpun menjawab
dengan nada sendu.
“tapi kan mamah bisa ngasih tahu aku?”
Mamahpun terdiam
“mamah kenapa nggak kasih tahu aku???”
JJJ
“Pah, andaikan Dicky bisa menarik kembali
waktu. Dicky bakal nurutin semua perkataan papah termasuk keinginan papah yang
ingin memasukkan Dicky ketika Dicky mengenyam bangku SMP”
Tanpa sadar aku tidur terlelap disamping
batu nisan papah. Aku merasakan papah menyentuh pundakku dan memanggil namaku.
“Dicky…Dicky…”
Akupun terkejut melihat sosok papah didepan
mukaku.
“papah??”
“iya ini papah”
“beneran?”
“iya ini papah”
“ini bukan mimpikan pah? Papah benerankan
masih hidup?”
“kamu ngomong apa sih? Cepetan sana
berangkat sekolah! Sekarang sudah jam setengah tujuh”
Aku masih terdiam dengan dilapisi
beribu-ribu pertanyaan
“Dicky!! buruan berangkat!!! Nanti kamu
telat lagi!”
Papahpun pergi dari kamarku. Dalam benakku
aku berkata syukurlah, ini hanya sebuah
mimpi. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mengingatkanku dan aku berjanji
akan menjadi orang yang lebih baik lagi.
“DICKYYYYY!!! BERANGKAT!!!”
“iya pah… bentar”
JJJ
THE END
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar