Kukurruyuk…
kukurruyukk…,!!!! Akupun terbangun dari tidur nyenyakku setelah mendengar suara
ayam berkokok, yang ternyata adalah suara alarm handphoneku, . Kupandangi alarm
itu dengan tatapan kosong setengah sadar dari tidur. Sampai ku menyadari kalo
waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. “Astaga aku kesiangan lagi !!!” akupun
bangkit dari ranjangku. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan menyambar handukku
yang berada di kastok yang terpasang dibalik pintu. Saking licinnya lantai,
akupun terpeleset didepan kamar mandi. BRUKKKK !!!!!
“Awww!!!
Sakiiiiiit..!!!!” erangku
“hati-hati
Dicky! jangan lari-lari! Nanti kepleset!!”
teriak Sisy kakakku dari dapur
“telat!!
Udah kepleset nih” jawabku setengah teriak.
“hahahaha
kasian… deh lu!!” ejek Sisy
Akupun bergegas bangkit
dan masuk kekamar mandi, tanpa menghiraukan ejekan Sisy. Di kamar mandi, aku hanya mencuci muka dan
sikat gigi. Maklumlah.. namanya juga
anak cowok . Agak sedikit jorok juga nggak apa-apa, kalo emang dasarnya ganteng,
cewek manapun akan kepincut sama ketampananku, walaupun aku belum mandi.
Asalkan mereka nggak tahu, pikirku. Selesai
dari kamar mandi, aku menuju garasi untuk mengambil sepeda motor kebanggaanku. Ketika
hendak meninggalkan rumah, dari belakang kakaku Sisy berteriak.
“Dicky
!! Makan dulu!!”
Aku tidak menghiraukannya,
langsung saja ku tancapkan gas dengan kecepatan tinggi.
JJJ
Sesampainya
disekolah, ternyata gerbang masih terbuka lebar. Aku belum telat! batinku berteriak. Ketika hendak menuju gerbang
aku tersadar kalo hari ini adalah hari senin. Ada apel upacara, dan aku lupa
membawa topiku. “Astaga!!! Topiku”. Langsung saja ku berbalik arah untuk kembali kerumah.
JJJ
asem kaya gini” sambil hendak memukul
pantatku dengan sapu yang dipegangnya.
“weeee… nggak kena” sambil menjulurkan
lidahku dengan mak“ lah, ko balik lagi dick??” sahut Sisy
“mau ngambil topi kak, ketinggalan!!”
seruku
“makannya… kalo ngerjain sesuatu tuh jangan
buru-buru!! Inikan akibatnya, udah kesiangan pulaa” sewot Sisy.
“ haduuuuh… kakak kalo mau ceramah nanti
aja deh aku lagi buru-buru nih!!”
“weleh… weleh.. punya adik satu aja kurang sud
meledek.
Akupun langsung
menuju sekolah lagi. Sesampainya disana, gerbangpun sudah ditutup beberapa
menit yang lalu. Untungnya, aku kenal akrab dengan Mang Udin, yakni satpam
sekolah. Akhirnya, aku masih diberi kesempatan untuk masuk. Senangnya… hatiku
JJJ
Pada saat jam
pelajaran fisika, yang seharusnya hari ini ulangan, di isi oleh Bu Nia, sekarang kosong. Bu Nia
pergi ke Bandung untuk diklat beberapa hari kedepan. Anak-anak dikelaspun sorak
soray bergembira merayakan batalnya ulangan fisika. Jangan salah, walaupun kami
anak IPA tapi kelakuan kita bandel, tidak semua anak IPA itu rajin. Yang setiap
nggak ada guru, selalu lapor keguru piket dan minta diberi tugas. Ada yang main
gitar, ngrumpi, pergi ke kantin dan berbagai macam kerjaan yang anak-anak kelas
lakukan untuk mengisi waktu kosong mereka. Tapi kegembiraan yang mereka rasakan
tidak dirasakan olehku. Aku yang
biasanya ikut gabung main gitar dan tertawa bersama Adit, Zaenal, dan Didit.
Sekarang aku termangu dipojok kelas. Entahlah, tak tahu apa yang sedang saya
pikirkan. Setelah aku mulai merasa jenuh dikelas, aku memutuskan untuk pergi ke
kantin. Baru saja ku melangkahkan kaki, terdengar suara dari balik salon yang
terpasang disetiap kelas. Terdengar disana suara Pak Didit.
“Ehm, pemberitahuan. Panggilan untuk
saudara Dicky Aditya kelas XI IPA 5 ditunggu oleh Bu Ida diruang BK!. Sekali
lagi, panggilan untuk saudara Dicky Aditya kelas XI IPA 5 ditunggu Bu Ida
diruang BK. Terimakasih.”
Deg!!! Akupun langsung diam. Sontak aku kaget. Kesekian
kalinya aku dipanggil oleh guru BK yang satu itu.
“Dick!!! Dipanggil tuh!!” sahut salah
seorang temanku dari belakang.
Tanpa aku hiraukan temanku, aku langsung pergi ke ruang BK dan
mengurungkan niatku untuk pergi kekantin.
JJJ
Setiap aku menuju ruang BK, perasaan
takut dan gelisah selalu menyelimutiku dan aku merasakan jantungku bekerja dua
kali lebih cepat dari biasanya. Setelah melewati beberapa kelas, sampailah aku
didepan pintu ruang BK. Kuketuk pintu yang tertutup itu.
Tok..
Tok.. Tok
“ya,
masuk!!!” terdengar suara Bu Ida menyahut
“maaf
bu, apa ibu memanggil saya?”
“
ya benar, ibu memanggil kamu, silahkan duduk Dicky!”. Akupun duduk .
“Dicky! Apa kamu tahu, maksud ibu manggil
kamu kesini apa?” Ibu Idapun memulai
percakapan.
“maaf bu saya tidak tahu”
“Dicky, kamu tahu catatan Black list saya sudah penuh dengan semua
kelakuan nakal kamu”
“ehm…” sekarang aku mengerti maksud Ibu Ida memanggil
aku kesini untuk apa.
“bulan ini kamu telah mengukir beberapa
kasus yang telah kamu perbuat. Dan semuanya kamu lakukan secara berurutan. Coba
lihat!” sambil menyodorkan catatan hitam kepadaku. Aku hanya bisa diam, dan Ibu
Ida masih meneruskan omongannya.
“disitu tertulis kamu sudah berkali-kali
loncat pagar, sepuluh kali membolos, setiap bulannya lima belas kali alfa,
berantem dengan kakak kelas hanya karena masalah cewek, menggunakan HP ketika
KBM berlangsung, tidak mengerjakan tugas yang guru berikan dan terakhir ketika
razia yang terjadi kemaren. Pa Didit menemukan dua bungkus rokok didalam tasmu.
Dicky, ibu merasa kamu telah berubah drastis dibandingkan dengan ketika kamu
kelas sepuluh, dulu kamu selalu jadi juara kelas dan terkenal pendiam. Tapi
sekarang, kamu berubah 75% lebih buruk, kenapa kamu bisa seperti ini? coba
ceitakan kepada ibu?”
Aku hanya terdiam dengan apa yang dikatakan
oleh ibu Ida.
“Dicky, coba ceritakan apa yang sebenarnya
terjadi? Kamu tidak usah malu-malu”
“Mungkin karena aku tipe orang yang mudah
terbawa oleh orang lain, akupun terbawa-bawa dengan teman kelasku yang
mayoritas nakal bu”. Akupun mulai angkat bicara
“ibu
paham dengan itu semua. Tapi, semua perbuatanmu itu sudah tidak bisa ditoleran
lagi”
“sangsi apa yang akan ibu berikan terhadapku?”
“kali ini ibu tidak akan memberi sangsi”
dengan muka tegas Bu Ida menjawab pertanyaanku
Tetapi aku masih tetap diam dan dibelenggu oleh
rasa penasaran. Apa yang akan dilakukan
Ibu Ida terhadapku? batinku bertanya.
“sebelumnya ibu mohon maaf dicky, dengan
penuh rasa kecewa dan berat hati, pihak sekolah telah memutuskan, bahwa kamu
akan dikeluarkan.”
Sontak aku kaget dengan perkataan ibu Ida.
Seakan ada petir yang menyambar. Tanganku langsung terasa dingin, semua anggota
badanku bergetar, dan bibirku kelu kaku seakan-akan sulit untuk berbicara.
Tapi dengan sekuat tenaga aku memberanikan
diri untuk bertanya “apa ini keputusan mutlak bu?”
“maaf Dicky, ini keputusan mutlak dan sudah
tidak bisa ditawar lagi. Tadi pagi, ibu mengundang orang tua kamu dan sudah
membicarakan hal ini”
“orang
tua saya bu?”
“ya. Awalnya orang tua kamu agak kurang setuju,
setelah dibicarakan lagi, orang tuamupun setuju”
Dalam batinku berkata pasti mama dan papa amat kecewa terhadaku. akupun tertunduk.
“ya sudah Dicky, sekarang kamu boleh
kembali ke kelas”
“oh ya udah bu makasih” akupun mencium
tangan Ibu Ida dan kembali ke kelas.
JJJ
Teeeet…teeetttt……
Belpun berbunyi. Pertanda KBM hari ini
telah selesai. Seluruh siswa keluar dari kelas dengan rasa bahagia. Layaknya narapidana yang telah bebas dari jeruji
besi. Tapi, tidak dengan aku. Semenjak aku keluar dari ruang BK sampai pulang
sekolah sekarang, aku terus mengingat obrolan antara aku dan Ibu Ida di ruang
Bk, bahwa aku akan dikeluarkan karena kelakuanku. Akupun bergegas untuk pulang.
Setiap nafas yang kuhirup, hendak menuju rumah, selalu diiringi dengan perasaan
resah, gelisah, dan takut. Sama seperti yang ku rasakan ketikaku hendak menuju
ruang Bk untuk menemui Bu Ida. Bedanya, sekarang aku akan menghadapi mama dan
papaku ketika sampai dirumah. pasti,
mereka akan memarahiku habis-habisan batinku berkata.
JJJ
Sesampainya dirumah.
“assalamu’alaikum” kubuka pintu sambil
mengucapkan salam
“wa’alikumussalam” terdengar suara mama dan
papa, yang ternyata telah menungguku diruang tamu. Akupun langsung mendekati
mereka, ku tatap mata mereka, terpancar aura kasih sayang dan kebijaksanaan di
sana, akupun langsung memeluk mereka, dan meminta maaf karena aku telah
mengecewakan mereka. Tak terasa, air matakupun jatuh ke pipi. Jangan salah,
walaupun nakal kaya gini, tapi saya tipe anak yang sayang orang tua. Sekalinya
bikin orang tua kecewa aku pasti nangis. Yah… walaupun agak terdengar cengeng
sih…
“pah, mah maafin Dicky. Dicky udah
ngecewain mamah dan papah” isakku
“iya Dick, kita maafin” jawab mama
“sekarang, terserah mamah dan papah. Dicky
mau di sekolahin dimana, Dicky akan nurut. Sekalipun Dicky harus dimasukin di
pesantren, seperti harapan papa beberapa tahun yang lalu”.
Ya, beberapa tahun yang
lalu. Ketika aku hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Papa sangat
berharap padaku supaya aku masuk ke pondok pesantren. Papa ingin anaknya tidak
terpengaruh dengan pergaulan bebas di jaman
modern ini. Selain itu, papa sangat berharap kelak dimasa depan nanti aku
bisa menjadi seorang da’i. Seperti da’i muda yang sangat diidolakan papa yaitu
Muhammad Azhari Nasution. Papaku sangat mengidolakan Azhari karena di umur
Azhari yang masih muda, ketika itu dia masih berumur tujuh belas tahun. Dia
sudah memiliki wawasan yang luas, semua kitab dia kuasai, dan selain itu
tilawatil qur’annya sangat indah. Tetapi, ketika itu aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar