Rabu, 11 April 2012

CERPEN HANYA MIMPI part 1


Kukurruyuk… kukurruyukk…,!!!! Akupun terbangun dari tidur nyenyakku setelah mendengar suara ayam berkokok, yang ternyata adalah suara alarm handphoneku, . Kupandangi alarm itu dengan tatapan kosong setengah sadar dari tidur. Sampai ku menyadari kalo waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. “Astaga aku kesiangan lagi !!!” akupun bangkit dari ranjangku. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan menyambar handukku yang berada di kastok yang terpasang dibalik pintu. Saking licinnya lantai, akupun terpeleset didepan kamar mandi. BRUKKKK !!!!!
   “Awww!!! Sakiiiiiit..!!!!” erangku
   “hati-hati Dicky!  jangan lari-lari! Nanti kepleset!!” teriak Sisy kakakku dari dapur
   “telat!! Udah kepleset nih” jawabku setengah teriak.
   “hahahaha kasian… deh lu!!” ejek Sisy
Akupun bergegas bangkit dan masuk kekamar mandi, tanpa menghiraukan ejekan Sisy.  Di kamar mandi, aku hanya mencuci muka dan sikat  gigi. Maklumlah.. namanya juga anak cowok . Agak sedikit jorok juga nggak apa-apa, kalo emang dasarnya ganteng, cewek manapun akan kepincut sama ketampananku, walaupun aku belum mandi. Asalkan mereka nggak tahu, pikirku.  Selesai dari kamar mandi, aku menuju garasi untuk mengambil sepeda motor kebanggaanku. Ketika hendak meninggalkan rumah, dari belakang kakaku Sisy berteriak.
   “Dicky !! Makan dulu!!”
Aku tidak menghiraukannya, langsung saja ku tancapkan gas dengan kecepatan tinggi.
JJJ
Sesampainya disekolah, ternyata gerbang masih terbuka lebar. Aku belum telat! batinku berteriak. Ketika hendak menuju gerbang aku tersadar kalo hari ini adalah hari senin. Ada apel upacara, dan aku lupa membawa topiku. “Astaga!!! Topiku”. Langsung saja ku berbalik arah  untuk kembali kerumah.
JJJ
asem kaya gini” sambil hendak memukul pantatku dengan sapu yang dipegangnya.
“weeee… nggak kena” sambil menjulurkan lidahku dengan mak“ lah, ko balik lagi dick??” sahut Sisy
“mau ngambil topi kak, ketinggalan!!” seruku
“makannya… kalo ngerjain sesuatu tuh jangan buru-buru!! Inikan akibatnya, udah kesiangan pulaa” sewot Sisy.
“ haduuuuh… kakak kalo mau ceramah nanti aja deh aku lagi buru-buru nih!!”
“weleh… weleh.. punya adik satu aja kurang sud meledek.
Akupun langsung menuju sekolah lagi. Sesampainya disana, gerbangpun sudah ditutup beberapa menit yang lalu. Untungnya, aku kenal akrab dengan Mang Udin, yakni satpam sekolah. Akhirnya, aku masih diberi kesempatan untuk masuk. Senangnya… hatiku
JJJ
Pada saat jam pelajaran fisika, yang seharusnya hari ini ulangan,  di isi oleh Bu Nia, sekarang kosong. Bu Nia pergi ke Bandung untuk diklat beberapa hari kedepan. Anak-anak dikelaspun sorak soray bergembira merayakan batalnya ulangan fisika. Jangan salah, walaupun kami anak IPA tapi kelakuan kita bandel, tidak semua anak IPA itu rajin. Yang setiap nggak ada guru, selalu lapor keguru piket dan minta diberi tugas. Ada yang main gitar, ngrumpi, pergi ke kantin dan berbagai macam kerjaan yang anak-anak kelas lakukan untuk mengisi waktu kosong mereka. Tapi kegembiraan yang mereka rasakan tidak dirasakan olehku.  Aku yang biasanya ikut gabung main gitar dan tertawa bersama Adit, Zaenal, dan Didit. Sekarang aku termangu dipojok kelas. Entahlah, tak tahu apa yang sedang saya pikirkan. Setelah aku mulai merasa jenuh dikelas, aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Baru saja ku melangkahkan kaki, terdengar suara dari balik salon yang terpasang disetiap kelas. Terdengar disana suara Pak Didit.
“Ehm, pemberitahuan. Panggilan untuk saudara Dicky Aditya kelas XI IPA 5 ditunggu oleh Bu Ida diruang BK!. Sekali lagi, panggilan untuk saudara Dicky Aditya kelas XI IPA 5 ditunggu Bu Ida diruang BK. Terimakasih.”
Deg!!! Akupun langsung diam. Sontak aku kaget. Kesekian kalinya aku dipanggil oleh guru BK yang satu itu.
“Dick!!! Dipanggil tuh!!” sahut salah seorang temanku dari belakang.
Tanpa aku hiraukan temanku, aku langsung pergi ke ruang BK dan mengurungkan niatku untuk pergi kekantin.
JJJ
Setiap aku menuju ruang BK, perasaan takut dan gelisah selalu menyelimutiku dan aku merasakan jantungku bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Setelah melewati beberapa kelas, sampailah aku didepan pintu ruang BK. Kuketuk pintu yang tertutup itu.
            Tok.. Tok.. Tok
            “ya, masuk!!!” terdengar suara Bu Ida menyahut
            “maaf bu, apa ibu memanggil saya?”
            “ ya benar, ibu memanggil kamu, silahkan duduk Dicky!”. Akupun duduk .
“Dicky! Apa kamu tahu, maksud ibu manggil kamu kesini  apa?” Ibu Idapun memulai percakapan.
“maaf bu saya tidak tahu”
“Dicky, kamu tahu catatan Black list saya sudah penuh dengan semua kelakuan nakal kamu”
“ehm…”  sekarang aku mengerti maksud Ibu Ida memanggil aku kesini untuk apa.
“bulan ini kamu telah mengukir beberapa kasus yang telah kamu perbuat. Dan semuanya kamu lakukan secara berurutan. Coba lihat!” sambil menyodorkan catatan hitam kepadaku. Aku hanya bisa diam, dan Ibu Ida masih meneruskan omongannya.
“disitu tertulis kamu sudah berkali-kali loncat pagar, sepuluh kali membolos, setiap bulannya lima belas kali alfa, berantem dengan kakak kelas hanya karena masalah cewek, menggunakan HP ketika KBM berlangsung, tidak mengerjakan tugas yang guru berikan dan terakhir ketika razia yang terjadi kemaren. Pa Didit menemukan dua bungkus rokok didalam tasmu. Dicky, ibu merasa kamu telah berubah drastis dibandingkan dengan ketika kamu kelas sepuluh, dulu kamu selalu jadi juara kelas dan terkenal pendiam. Tapi sekarang, kamu berubah 75% lebih buruk, kenapa kamu bisa seperti ini? coba ceitakan kepada ibu?”
Aku hanya terdiam dengan apa yang dikatakan oleh ibu Ida.
“Dicky, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tidak usah malu-malu”
“Mungkin karena aku tipe orang yang mudah terbawa oleh orang lain, akupun terbawa-bawa dengan teman kelasku yang mayoritas nakal bu”. Akupun mulai angkat bicara
 “ibu paham dengan itu semua. Tapi, semua perbuatanmu itu sudah tidak bisa ditoleran lagi”
 “sangsi apa yang akan ibu berikan terhadapku?”
“kali ini ibu tidak akan memberi sangsi” dengan muka tegas Bu Ida menjawab pertanyaanku
Tetapi aku masih tetap diam dan dibelenggu oleh rasa penasaran. Apa yang akan dilakukan Ibu Ida terhadapku? batinku bertanya.
“sebelumnya ibu mohon maaf dicky, dengan penuh rasa kecewa dan berat hati, pihak sekolah telah memutuskan, bahwa kamu akan dikeluarkan.”
Sontak aku kaget dengan perkataan ibu Ida. Seakan ada petir yang menyambar. Tanganku langsung terasa dingin, semua anggota badanku bergetar, dan bibirku kelu kaku seakan-akan sulit untuk berbicara.
Tapi dengan sekuat tenaga aku memberanikan diri untuk bertanya “apa ini keputusan mutlak bu?”
“maaf Dicky, ini keputusan mutlak dan sudah tidak bisa ditawar lagi. Tadi pagi, ibu mengundang orang tua kamu dan sudah membicarakan hal ini”
“orang  tua saya bu?”
“ya. Awalnya orang tua kamu agak kurang setuju, setelah dibicarakan lagi, orang tuamupun setuju”
Dalam batinku berkata pasti mama dan papa amat kecewa terhadaku. akupun tertunduk.
“ya sudah Dicky, sekarang kamu boleh kembali ke kelas”
“oh ya udah bu makasih” akupun mencium tangan Ibu Ida dan kembali ke kelas.
JJJ
Teeeet…teeetttt……
Belpun berbunyi. Pertanda KBM hari ini telah selesai. Seluruh siswa keluar dari kelas dengan rasa bahagia. Layaknya narapidana yang telah bebas dari jeruji besi. Tapi, tidak dengan aku. Semenjak aku keluar dari ruang BK sampai pulang sekolah sekarang, aku terus mengingat obrolan antara aku dan Ibu Ida di ruang Bk, bahwa aku akan dikeluarkan karena kelakuanku. Akupun bergegas untuk pulang. Setiap nafas yang kuhirup, hendak menuju rumah, selalu diiringi dengan perasaan resah, gelisah, dan takut. Sama seperti yang ku rasakan ketikaku hendak menuju ruang Bk untuk menemui Bu Ida. Bedanya, sekarang aku akan menghadapi mama dan papaku ketika sampai dirumah. pasti, mereka akan memarahiku habis-habisan batinku berkata.
JJJ
Sesampainya dirumah.
“assalamu’alaikum” kubuka pintu sambil mengucapkan salam
“wa’alikumussalam” terdengar suara mama dan papa, yang ternyata telah menungguku diruang tamu. Akupun langsung mendekati mereka, ku tatap mata mereka, terpancar aura kasih sayang dan kebijaksanaan di sana, akupun langsung memeluk mereka, dan meminta maaf karena aku telah mengecewakan mereka. Tak terasa, air matakupun jatuh ke pipi. Jangan salah, walaupun nakal kaya gini, tapi saya tipe anak yang sayang orang tua. Sekalinya bikin orang tua kecewa aku pasti nangis. Yah… walaupun agak terdengar cengeng sih…
“pah, mah maafin Dicky. Dicky udah ngecewain mamah dan papah” isakku
“iya Dick, kita maafin” jawab mama
“sekarang, terserah mamah dan papah. Dicky mau di sekolahin dimana, Dicky akan nurut. Sekalipun Dicky harus dimasukin di pesantren, seperti harapan papa beberapa tahun yang lalu”. 
Ya, beberapa tahun yang lalu. Ketika aku hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Papa sangat berharap padaku supaya aku masuk ke pondok pesantren. Papa ingin anaknya tidak terpengaruh dengan pergaulan bebas di jaman modern ini. Selain itu, papa sangat berharap kelak dimasa depan nanti aku bisa menjadi seorang da’i. Seperti da’i muda yang sangat diidolakan papa yaitu Muhammad Azhari Nasution. Papaku sangat mengidolakan Azhari karena di umur Azhari yang masih muda, ketika itu dia masih berumur tujuh belas tahun. Dia sudah memiliki wawasan yang luas, semua kitab dia kuasai, dan selain itu tilawatil qur’annya sangat indah. Tetapi, ketika itu aku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar